Tips Parenting Anak: Cara Mendidik Anak yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini

Cara Mendidik Anak yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini
Cara Mendidik Anak yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini (Foto: Designed by Freepik)

Cara mendidik anak yang baik dan benar sejak usia dini tentu harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan si anak. Mengapa demikian? Karena perkembangan masing-masing anak jelas berbeda, dilihat dari bagaimana cara belajar mereka, lingkungan mereka berada, dan yang paling mempengaruhi perkembangan si anak adalah pola asuh orang tua yang merupakan ‘guru’ pertama yang mengajarkan mereka apa yang benar dan yang salah, mana yang sopan dan tidak sopan, supaya harapan orang tua untuk menjadikan mereka sebagai anak yang pintar dan mandiri pun berhasil.

Mengasuh anak memang bukan hal yang mudah. Diperlukan rasa kasih sayang dan pengorbanan orang tua demi perkembangan yang baik pada karakter anak. Anak yang mampu mengenali dirinya dan dapat menciptakan visi sendiri dalam hidup mereka pasti mampu membanggakan orang tuanya. Namun, masih ada saja anak-anak yang takut dengan orang tua, tidak terbuka, dan sulit mengeksplor dirinya dengan teman-teman maupun lingkungannya. Hal ini dapat menghambat perkembangan anak dalam membentuk kepribadian yang baik.

Baca juga: Yuk, Cari Tahu Buah Apa Saja Yang Bagus Untuk Pertumbuhan Anak

Adalah perlu, sebagai orang tua, untuk mau mengerti tips parenting anak – cara mendidik anak yang baik dan benar sejak usia dini untuk pembentukan karakter, pengetahuan, serta kehidupan sosialnya sebagai bekal hingga ia dewasa.

Cara Mendidik Anak yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini

Ingin anak menjadi pribadi yang pintar dan mandiri dalam mengurusi kehidupannya kelak dengan benar? Kita para orang tualah yang dapat mulai menentukannya sejak ia dilahirkan.

1. Ajari Bahasa Kasih

“I love you, dear…”

Tidak ada yang salah dengan sering mengucapkan “I love you” kepada anak sejak dini. Memeluk, mencium, dan memberi pujian merupakan bahasa kasih yang dapat ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak si anak berusia dini, biasakan untuk memberinya pelukan, ciuman, dan bahkan pujian berupa kata-kata atau hadiah untuk menunjukkan bahwa anda sebagai orang tua merupakan orang yang menyayangi dan menerima kehadirannya dengan penuh cinta, beritahu si anak bahwa ia berharga. Hal ini juga dapat anda lakukan sebagai tanda bahwa anda sudah menghargai jerih payahnya dalam belajar, meskipun hasilnya tidak sesuai yang ia harapkan sehingga si anak tetap termotivasi untuk terus belajar.

Namun, tentu saja hal ini juga tidak dilakukan secara berlebihan yang dapat membuat anak jadi si manja. Lakukan dengan bijaksana agar ketika anak sudah semakin dewasa ia mampu menghargai dan menyayangi lingkungannya dengan benar. Mempunyai kesadaran bahwa orang-orang di sekitarnya berharga dan layak diperlakukan dengan baik.

2. Hindari Pengajaran Mitos

“Jangan duduk di pintu, nanti jodohnya jauh!”
“Kalau makan biji semangka, nanti tumbuh pohonnya dari perut ke ubun-ubun.”

Mungkin tujuan kita sebagai orang tua sebenarnya baik agar anak tidak melakukan hal yang tidak benar. Namun, jika caranya dengan memberikan pengajaran mitos, justru akan membuatnya melakukan hal tersebut bukan karena tahu itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, namun karena ia takut dan merasa terancam. Menurut KBBI, mitos merupakan cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Hal ini berarti pengenalan akan benda yang diagungkan secara berlebihan dan ditafsirkan sendiri.

Hindari anak dari kalimat-kalimat yang tidak benar pengajarannya karena apa yang diterima anak sejak dini pasti menjadi pegangannya hingga dewasa. Jadi, apakah benar jika si anak termakan biji semangka akan tumbuh pohon semangka di perutnya? Jelas tidak kan? Jika orang tua terus memberi peringatan kepada anak dengan cara ini, berarti tanpa disadari kita sudah membodohi anak kita sendiri. Sebaiknya, berikan anak penjelasan mengapa ia tidak boleh melakukan hal itu. Tentunya dengan alasan yang jujur dan benar agar menjadi pengetahuan yang baik dan anak pun melakukannya karena ia sadar dan mengerti bahwa hal yang ia lakukan salah.

3. Pintar Bukan Berarti Harus Juara 1

“Kamu pintar ya dapat nilai 100 terus dan juara 1 di kelas.”

Adanya level penilaian pintar yang sudah membudaya di sekitar kita, seolah bersifat ‘memaksa’ bahwa untuk penilaian pintar berarti juara 1 dan sering mendapat nilai sempurna. Sebagai orang tua, tentu kita adalah orang yang paling mengenal siapa anak kita, apa saja kelebihan dan kekurangannya tanpa harus membandingkan dengan teman atau saudaranya, bahkan menuntutnya untuk mengikuti ‘peringkat pintar’ menurut penilaian banyak orang.

Anak jelas dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Tugas orang tua adalah mempercayakan kemampuannya bertumbuh dan mendukungnya. Jika si anak dilihat senang bernyanyi, jangan marahi jika nilai matematika mereka rendah. Jika si anak senang berolahraga, anda bisa mencoba membawanya masuk sekolah olahraga yang disukainya. Dengan cara ini, si anak pun lebih mudah mengenali dirinya sejak dini hingga ia mengerti akan cita-citanya di masa depan tanpa harus membandingkan dirinya dengan orang lain dan takut merasa kalah.

Jadi, memberikan pola asuh yang baik dan benar kepada anak sejak dini merupakan poin yang tidak dapat disepelekan. Justru, jika sejak kecil ia sudah menerima banyak asupan yang benar, hingga besar ia akan lebih mudah menjaga dirinya dengan apa yang benar.

Ingin habiskan waktu luang dengan anak? Akhir Pekan, Intip 5 Ide Seru Habiskan Weekend bersama Anak

alfacart.com – belanja online jadi dekat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here