Kenali Latar Belakang dan Ciri-ciri Anak Korban Kasus Bullying

Yuk, kenali latar belakang dan ciri-ciri anak korban kasus bullying di bawah ini.

Latar Belakang dan Ciri-ciri Anak Korban Kasus Bullying
Foto: pixabay

Segera kenali latar belakang dan ciri-ciri anak korban kasus bullying! Kasus bullying semakin tidak mengenal usia. Tidak hanya pada kalangan dewasa dan remaja, bahkan potensi anak-anak untuk menjadi korban bahkan pelaku bullying pun sudah semakin meningkat. Bullying sendiri dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penindasan atau perisakan (Wikipedia), yakni penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengenali Proses Tumbuh Kembang Anak

Anak-anak sebagai penerus generasi bangsa serta titipan Tuhan yang diberikan kepada para orang tua layak mendapatkan perlindungan dan pengajaran yang benar sebelum kasus bullying merusak masa kanak-kanak mereka yang berharga. Dimulai dari orang tua yang harus mengenalkan anak-anak dengan lingkungan yang benar dan mengajarkan cara beradaptasi dengan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Karena anak yang terkena kasus bullying tidak hanya merugikan masa kanak-kanak mereka, hal ini dapat berakibat fatal hingga mereka dewasa, bahkan saat mereka sudah menjadi orang tua.

Untuk memahami keadaan anak yang menjadi korban kekerasan, mari kita kenali apa saja latar belakang dan ciri-ciri anak korban kasus bullying di bawah ini.

  1. Depresi
    Cenderung menjadi pendiam seringkali dilakukan anak-anak saat mereka ngambek. Namun, waspadalah saat anak lebih emosional dari sifat anak-anak biasanya. Anak yang menjadi korban bully akan lebih mudah marah dan menangis saat di rumah, menunjukkan rasa cemas yang berlebihan, pola tidur tidak teratur, nafsu makan berubah-ubah, bahkan malas untuk pergi ke sekolah.
  2. Rendah diri
    Anak dengan penghargaan diri rendah mudah sekali menjadi korban bullying, sehingga ketika diperlakukan kasar oleh teman-temannya, ia akan menunjukkan sikap pesimis, takut salah mengambil keputusan, merasa tidak ada yang ingin berteman dengannya, dan memiliki kekhawatiran berlebihan akan masa depannya.
  3. Bermasalah dalam komunikasi
    Anak yang menjadi korban bully akan menarik diri dari pergaulan di sekolah, sulit berkomunikasi dengan orang lain terlebih orang baru, dan tidak memiliki banyak teman. Anak akan lebih sering terlihat menghabiskan waktu sendiri tanpa memikirkan ada yang peduli dengannya. Yang anak tahu, ia aman jika sendiri saja.
  4. Tanda-tanda fisik
    Satu ciri-ciri ini merupakan yang paling mudah untuk dikenali karena meninggalkan bekas di tubuh, seperti luka atau memar. Namun, ada juga anak yang mengeluh sakit kepala, sakit perut, deman, dan lain-lain.

Di satu sisi, anak yang menjadi korban bully memiliki potensi untuk menjadi pelaku bully sebagai pelampiasan dari rasa kecewa yang dialaminya sendiri. Namun, hal ini dapat terjadi pada anak yang memiliki kontrol diri yang lemah sehingga menjadikannya tidak memiliki rasa tanggung jawab sosial, merasa paling benar, senang mengatur orang lain, dan mudah melakukan kenakalan yang menjadikannya pelaku bullying.

Jauhkan tindakan kekerasan terhadap anak yang dapat mencuri kebahagiaannya. Setiap anak berhak untuk bahagia dan disayangi. Hentikan perilaku bullying saat ini!

Baca juga: Anak Terkena Kanker, Bagaimana Orangtua Menjelaskannya?

Alfacart.com – belanja online jadi dekat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here