Mengapa Kanker Anak Banyak Ditemukan pada Stadium Lanjut?

www.kompas.com

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, terdapat 16.291 kasus kanker pada anak berusia 0-14 tahun. Sayangnya, lebih dari 50 persen datang ke fasilitas kesehatan saat sudah stadium lanjut.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Ira Soelistyo mengatakan, gejala kanker anak umumnya memang tidak khas. Hal itu menyebabkan orangtua kurang menyadari ketika ada tanda-tanda kanker.

Gejala kanker kerap dikira penyakit yang biasa dialami anak. Misalnya, demam, pucat, dan lesu. Akhirnya, saat berobat ke dokter pun tidak langsung diketahui anak memiliki kanker.

“Dokter terkadang juga enggak menyadari. Dikiranya tifus atau demam berdarah, tapi dikasih obat enggak sembuh-sembuh. Banyak yang sudah bolak-balik berobat sana sini dulu baru akhirnya diketahui kanker,” papar Ira dalam diskusi di Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Selain itu, masih banyak orangtua yang tak tahu jika kanker bisa menyerang anak. Akibatnya, pemeriksaan tidak langsung mengarah pada tenaga kesehatan yang kompeten.

Menurut Ira, sangat penting bagi orangtua dan tenaga kesehatan untuk mengenali gejala kanker pada anak.

“Enggak usah jauh-jauh, di Jakarta yang banyak informasi saja masih ada yang tidak tahu kalau kanker bisa terjadi pada anak,” kata Ira.

Ada pula orangtua yang khawatir biopsi dilakukan pada anak untuk memastikan kanker atau bukan. Kemudian, mencoba beralih ke pengobatan alternatif. Akhirnya, pemeriksaan dan tindakan kerap ditunda-tunda.

Dengan menunda pemeriksaan, tanpa disadari kanker bisa bertambah parah dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Berbagai hal itulah yang menyebabkan banyak pasien kanker anak datang berobat saat sudah stadium lanjut. (sumber: www.kompas.com)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here